Websites
Artikel
Suara Anda






![]() | Hari Ini | 89 |
![]() | Kemarin | 36 |
![]() | Minggu Ini | 269 |
![]() | Minggu Lalu | 205 |
![]() | Bulan Ini | 1050 |
![]() | Bulan Lalu | 1071 |
![]() | Keseluruhan | 9079 |
IP Anda: 38.107.191.113
,
Today: Jul 31, 2010
| Rasa Kasihan, Bisakah untuk Menjual Sesuatu? |
|
|
|
|
Ada sepasang suami istri penjual nasi kuning di suatu sudut jalan di kota Bandung. Mereka sudah sangat tua untuk dikategorikan penjual nasi yang sukses. Umur si Bapak sudah 70 an tahun, si Ibu sudah 60 an tahun lebih.
Warung mereka tergolong paling sepi di antara sederetan warung lainnya di sudut jalan itu. Menurut si penulis email ini juga, masakan mereka rasanya juga sangat standar, tidak ada istimewanya. Namun ada satu hal yang istimewa menurut penulis email tadi. Yaitu kesetiaan sepasang kakek nenek ini. Mereka sangat saling mengasihi. Kadang kalau warung nya sepi dari pemebeli, mereka saling memijit.
Jika ada pembeli yang ingin makan di sana, si kakek menyapa dengan ramah lalu menyiapkan piring dsb, sementara si nenek menyiapkan makanan. Jika sudah siap, si kakek dengan tertatih akan mengantarkan piring itu ke pelanggan. Setelah pelanggan pulang, si kakek membersihkan meja dari sisa makanan.
Kesetiaan lainnya adalah mereka jarang sekali tutup warung, walau usia mereka sudah tua dan tenaga sudah terbatas. Si penulis seringkali membeli makanan disana bukan karena kelezatannya, melainkan karena kasihan dan kagum akan semangat mereka.
Saya pun seringkali membeli sesuatu dari pedagang yang timbul dari rasa kasihan. Entah karena tokonya lebih sepi atau kasihan melihat profil penjualnya.
Seperti kita tahu bahwa keputusan seseorang dalam membeli dapat digolongkan menjadi dua, yaitu rasional dan emosional. Ketika produk kita sama dengan toko di sebelah, kenapa orang membeli dari kita adalah alasan emosional. Mungkin pelayanan kita lebih ramah, mungkin toko kita jarang tutup, mungkin barang kita lebih lengkap dan sebagainya.
Jika saat ini anda belum punya nilai tambah dalam produk anda, karena mungkin anda menjual komoditi seperti beras dan sebagainya. Anda tidak punya pilihan selain melakukan pendekatan emosional kepada pelanggan anda. Apalagi jika produk anda punya nilai tambah yang bagus, pendekatan emosional akan mempercepat closing sales anda.
Lalu, bagaimana dengan rasa kasihan? Bisakah ia menjual sesuatu?
Tentu saja! Hal ini sudah bukan rahasia lagi. Namun hingga sekarang belum ada satu penulis yang membeberkan bagaimana menjual hanya dengan rasa kasihan.
Karena apa? Karena rasa kasihan orang lain akan kita bisa timbul dari profil kita atau atas apa yang telah kita perbuat.
Kalau kita seorang pengemis dengan profil yang cacat dan kotor, apalagi dengan muka yang memelas. Dijamin ia adalah seorang marketer yang hebat dibidang nya. Karena dalam sehari ia bisa mengumpulkan uang Rp 50.000 sampai 100.000 dari hasil mengemis.
Kalau kita sebagai seorang agen asuransi atau MLM, lalu kita datang ke teman kita yang dulu pernah kita tolong, dijamin kemungkinan berhasil closing 80% dibanding orang lain yang datang kepada teman kita. Karena dia sungkan atau hanya sekedar ingin balas budi saja.
Berarti rasa kasihan ini bisa sebagai pembuka penjualan yang manis bagi seorang agen asuransi atau MLM pemula. Setidaknya ia bisa memberi semangat karena sudah berhasil closing 10 orang di 3 bulan masa percobaan.
Apakah berbekal rasa kasihan saja cukup untuk melanggengkan usaha kita?
Ternyata tidak lho. Kalau awalnya orang kasihan melihat kita, namun kita mengganggunya terus dengan meminta repeat order darinya, sementara produk kita jauh dari memadai. Orang malah akan jengkel melihat kita.
Ingat bahwa rasa kasihan atau simpati bisa dijadikan jalan pembuka bagi closing anda. Tetapi selanjutnya produk atau service kita lah yang mengambil alih peranan. Tetap ada hukum alam bahwa jika kita ingin sukses, kita harus menunjukkan kualitas kita, bukan memancing rasa kasihan orang semata!
Namun sekali lagi, jika saat ini anda merasa belum ada keahlian satu pun dari anda untuk dijual, kenapa tidak mulai dari rasa kasihan?
Semoga bermanfaat!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |












